ABOUT Tere Liye-

buku-buku tere liye

      …yang buku-bukunya selalu saya tunggu-tunggu.

       Bagi teman-teman yang mengikuti perfilman di Indonesia, mungkin telah sedikit familiar dengan nama ini. Akhir 2011 kemarin film Hafalan Shalat Delisa ramai menghiasi bioskop. Iyes, film ini diangkat dari sebuah buku best-seller karya Tere Liye ini.

        Selain Hafalan Shalat Delisa (HSD) masih ada beberapa buku Tere Liye yang lain, ada Moga Bunda Disayang Allah, Bidadari-bidadari Surga, Ayahku (bukan) Pembohong, dan masih banyak lagi.

       Saya sendiri mulai menikmati buku Tere Liye dari judul Bidadari-bidadari Surga (BBS). Waktu itu saya sama sekali belum pernah dengar nama penulis ini. Murni rekomendasi seorang teman yang akhirnya membawa saya membelinya. Di sampul buku BBS tersebut tertulis ”penulis buku Best-Seller Hafalan Shalat Delisa dan Moga Bunda Disayang Allah” Oow, penulis best seller toh.. pikir saya waktu itu.

      Dan sejak saya dibuat terpukau dan mewek2 oleh cerita BBS ini, sejak itu pula saya kemudian mengoleksi buku beliau. Kata kakak saya, buku yang bagus itu ada yang ’a must read book’ dan ’a must have book’. Seperti artinya, buku yang ‘a must have book’ tidak cukup hanya dengan membacanya, tapi harus dimiliki. Setingkat diatas ‘a must read book’. Dan buku Tere Liye ini saya anggap sebagai ‘a must have book’. Memang harus dikoleksi. IMHO.

                   Setiap penulis memiliki karakternya masing-masing, begitu pula Tere Liye. Dari buku-buku beliau yang saya baca, saya kemudian iseng menulis beberapa hal yang khas tentang Tere Liye dan karya-karyanya.
  •     Pertama. Hampir di setiap buku Tere Liye itu ada bagian cerita yang menceritakan tentang kesedihan dan keharuan. Saya hampir selalu berurai air mata setiap membaca buku-bukunya. Noted, tidak sekedar meneteskan ya, tapi memang berurai. Menangis dalam pengertian harfiah. Beneran, Tere Liye sangat jago mengaduk-aduk emosi pembaca, sehingga tidak sadar sudah ikut larut dalam emosi di cerita tersebut. Tentu saja, ini tidak sampai menghilangkan esensi cerita tersebut.
  •      Kedua. Tere Liye sering menggunakan alur waktu maju mundur dalam ceritanya. Misalnya di awal diceritakan kisah saat ini. Di bagian selanjutnya tiba-tiba saja setting cerita tersebut flash back ke beberapa tahun silam. Hebatnya, pembaca sama sekali tidak terganggu dengan alur maju mundur ini. Ehm, well.. itu menurut saya sendiri sih  Seingat saya setidaknya beliau menggunakan alur seperti ini di buku BBS, Rembulan Tenggelam di Wajahmu (RTW), dan Sunset bersama Rosie (SBR).
  •      Ketiga. Tere Liye sering menggunakan kata ”Urusan” di setiap kalimat ceritanya. Saya sudah lupa detilnya seperti apa ya, tapi kalo tidak salah paling banyak digunakan di buku HSD dan RTW. Ini salah satu hal yang menarik bagi saya, dan seperti menjadi ciri khas Tere Liye. Ah, sayang sekali kedua buku saya HSD dan RTW ini sekarang lagi ada di rumah di Sinjai, jadi tidak bisa mencuplik salah satu kalimat yang menggunakan kata itu. Saya baru ngeh sama hal kecil ini saat membaca buku beliau yang paling baru, Aku Kau dan Sepucuk Angpau Merah (AKSAM). Salah satu kalimatnya ”ternyata inilah yang membuat rumit urusan pekerjaan keduaku, bagai benang kusut”
  •       Keempat. Buku-buku Tere Liye tidak diterbitkan hanya dari satu penerbit. Seperti BBS diterbitkan oleh Penerbit Republika, Sang Penandai dan SBR diterbitkan oleh Mahaka Publishing, dan beberapa lainnya diterbitkan oleh Gramedia, salah satunya AKSAM ini.
  •       Kelima. Dan Tere Liye adalah seorang laki-laki, hehe.. Saya pun salah satu yang sempat terkecoh dengan nama ini, mengira beliau adalah perempuan. Soalnya buku Bidadari-bidadari Surga yang pertama saya baca itu kan menggunakan tokoh utama perempuan, jadi perkiraan sederhana saya ya itu, penulisnya juga perempuan. Disini pula hebatnya seorang Tere Liye, bisa sangat jeli menyelami perasaan, isi hati, dan hal-hal yang tidak terungkap dari seorang perempuan, padahal beliau adalah seorang laki-laki. Baru di beberapa buku terakhirnya Tere Liye menggunakan tokoh utama seorang laki-laki. Seperti di buku RTW, Ayahku (bukan) Pembohong, SBR, dan yang terbaru…

    Aku Kau dan Sepucuk Angpau Merah (AKSAM).

          Pengen sedikit cerita tentang buku terbaru ini. Menurut info di fanpage FB beliau, buku ini akan resmi beredar di toko buku se-Indonesia pada tanggal 24 Januari 2012. Tapi beberapa hari yang lalu saya jalan2 ke Gramedia, buku ini sudah ada. Yasud, saya beli langsung.

        Saya baru baca beberapa halaman, ketika seorang teman saya melihat sampul buku ini, dan spontan bilang gini ”ini buku dalam rangka menyambut Imlek ya La?” Hah? Iya juga ya, saya sudah baca sedikit, sudah ada gambaran tentang tokoh utama di cerita ini, yang memang secara tidak langsung mengarah ke satu suku etnis di negeri kita, tapi ndak kepikiran apakah buku ini memang diterbitkan bersamaan dengan momen Imlek, pada tanggal 23 Januari 2012 kemarin.

         Pada akhirnya, bagus atau tidaknya sebuah buku adalah masalah selera. Tidak bisa dipaksakan. Saya bisa saja mengatakan bahwa semua karya Tere Liye adalah Strong Recommended, tapi itu semua kembali ke para pembacanya masing-masing. Saya mengibaratkan buku-buku beliau seperti Madu. Manis dan menyehatkan. Khasiat madu kan sudah terbukti dimana-mana kan ya. Tapi tetap saja, ada segelintir orang yang tidak suka meminumnya. Hehe, semoga penilaian saya tidak berlebihan.

sumber : http://illawise.com/2012/01/22/penulis-itu-bernama-tere-liye/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s